Kamis, 31 Januari 2013

Dash (Part 3)

Aku mulai sadar, tak ada lagi yang bisa kulakukan kecuali terus bertarung. Aku berjalan menuju tubuh Hassel yang sudah tak berkepala. Aku merogoh semua saku pada pakaian yang melekat di tubuhnya. Lalau aku menemukan sesuatu. Aku mengambil benda itu, sebuah Tablet PC kecil transparan yang ada di saku bajunya, entah apa, tapi hanya itu yang ada di sakunya selain amunisi dan korek api. Aku memutuskan untuk mengambil ketiga jenis barang itu dan melanjutkan berlari.

Tiba-tiba, sesuatu mengagetkanku. Aku mendapat sebuah kejutan di otakku, dan aku dapat melihat beberapa gambaran, mungkin masa laluku. Seorang gadis berambut pirang membawa sebuah pisau, suatu arena bermain, rumah kecil bercat merah biru, dan sebuah jaket kulit. Pikiranku seakan berteriak. Aku terjatuh berlutut, dan entah kenapa aku mengeluarkan air mata. Bukan karena kesedihan atau apa. Aku tak mampu melihat jelas, aku merangkak di sepanjang jalan selama 5 menit, lalu kemudian mataku kembali jernih dan aku mulai mampu berjalan kembali. Aku tak tahu apa yang baru saja terjadi, kenapa aku mengeluarkan air mata, tetapi aku sudah melupakannya saat aku menemukan sebuah ruangan kecil.

Aku memasuki ruangan itu, dan melihat sebuah Tablet PC di balik sebuah kotak kaca tahan peluru. Hestia, pikirku. Aku berusaha menyalakan tablet itu, dan ketika berhasil, video seorang gadis muncul di hadapanku.

"Selamat datang, Fighter! Seperti yang sudah kalian tahu, aku adalah Hestia. Dewi rumah dan kehangatan. Di pos ini, ruangan ini, aku menyimpan beberapa supplies. Kau bisa mengambilnya, jika kau beruntung. Sebab, beberapa musuhmu mungkin telah masuk ke ruangan ini dan mengambil semua supplies yang ada." Hestia menyudahi videonya.

Aku mencari ke berbagai sudut ruangan, namun tak menemukan apa-apa. Aku terlambat, batinku. Aku hampir putus asa, ketika aku melihat sebuah lubang di salah satu sisi tembok. Aku berusaha menjebolnya dengan pistolku, sangat tebal memang, tetapi aku berhasil. Aku mengambil beberapa HInjection (Health Injection), amunisi extra, dan sebuah Tablet PC yang tersambung dengan kabel. Aku berhasil menyalakannya dan Tablet itu memintaku untuk memasukkan kodeku, kode yang ada di lenganku. Ketika aku sudah memasukannya, Tablet itu menampilkan pemberitahuan yang bertuliskan "Credit Extra Anda Sudah Terkirim ke Akun Anda" dan Tablet PC itu mengeluarkan suara letupan kecil. Aku tersentak sesaat setelah mendengar letupan tersebut. Asap hitam muncul dari kabel Tablet PC itu. Mungkin memang harusnya seperti itu. Aku tak mempunyai kewajiban untuk memperbaiki apapun bukan? Aku ditugaskan untuk bertarung, jadi aku keluar ruangan itu dan berjalan lagi menelusuri koridor.

Aku hampir mencapai ujung koridor, ketika aku mendengar letusan senjata. Aku terkejut dan takut, tapi rasa penasaranku mengalahkan semua itu. Aku mengintip dari balik tembok dan melihat seorang lelaki dan perempuan yang sedang menodongkan senjatanya ke arah satu sama lain. Gadis itu terluka, tampaknya. Namun tiba-tiba, lelaki itu menurunkan senjatanya dan berjalan pergi. Sesaat setelah ia meninggalkan gadis itu, aku melihat sesuatu yang sebelumnya terhalang. Lengan kiri gadis itu putus. Aku berlari ke arahnya dan berdoa semoga ia tak menembakku atau menikamku. Aku tampaknya mengenali gadis itu. Batinku menjerit, pikiranku menyerukan berbagai hal yang terdengar tidak asing. "Helena, Helena, HELENA!" aku berteriak dalam hati. Gadis itu adalah Helena, seseorang dari masa laluku. Ia adalah seorang Fighter juga, yang awalnya bekerja di perusahaan yang sama denganku, di perusahaan milik Chief. Aku berteriak memanggilnya. Ia tampaknya sangat pucat. Melihat keadaannya yang sudah tak bertangan kiri, mungkin dia sudah kekurangan banyak darah. Aku berlari ke tengah ruangan yang berbentuk lingkaran itu. Dia hampir terjatuh, namun aku berhasil menangkapnya. Aku membawanya ke sudut ruangan, dan berusaha mengobatinya sebisaku. Memberi HInjection, memberinya bandage, semua tak berguna. Ia tetap kehilangan banyak darah. Aku menatap matanya yang kelabu, dan dia mulai sadar bahwa aku adalah Dash, seseorang yang dikenalnya.

"Dash, apa ini benar-benar kau?" tanyanya

"Ya, Helena, ini aku." Jawabku

"Tapi, mereka bilang kau sudah mati. Bagaimana mungkin kau bisa kembali setelah insiden itu?" Tanyanya lagi

"Aku hanya lupa ingatan, sepertinya. Aku tak bisa ingat apapun. Tapi tunggu, bukankah satu perusahaan hanya mengirim satu Fighter?" Tanyaku meminta penjelasan.

"Maksudmu?" Helena menelengkan kepala, tidak mengerti

"Bukankah kita berada di satu perusahaan yang sama? Bukankah kita sama-sama anak buah Chief?" Tanyaku memperjelas pertanyaanku sebelumnya

"Tidak lagi, Dash. Sejak... sejak... sudahlah, itu tidak penting. Yang penting adalah, kau harus selamat. Semua pertarungan ini, semua ini adalah jalan satu-satunya untuk mengembalikan memorimu. Dan setelah kau ingat semuanya, kau pasti akan mengetahui apa yang tidak kau ketahui sekarang. Aku semakin lemah, Dash" Suaranya mulai menghilang

"Tunggu, bagaimana caranya aku mampu mendapatkan memoriku lagi?" Tanyaku

"Lakukan apa yang biasa kau lakukan, bunuh semua lawanmu. Tapi hati-hatilah pada satu orang, Rio. Dia adalah orang paling berbahaya di pertarungan ini. Kau membutuhkan ini..." Ia menyodorkan tiga selongsong amunisi. "Ini adalah Exploitator. Peluru-peluru ini mampu meledakkan musuhmu, dengan kecepatan tinggi. Peluru yang ada di pistolmu itu, mereka adalah Exploitator generasi pertama. Masih sangat lemah. Yang aku berikan ini adalah Exploitator generasi keempat. Kau akan membutuhkannya. Tapi..." Helena berhenti.

"Tapi apa?" tanyaku

"Tapi kau harus berhati-hati. Peluru ini memiliki daya ledak yang hebat, tapi terkadang peluru ini meledak sebelum mengenai sasaran. Dan juga, Rio sangat cepat. Ia mampu menembak dan mengisi peluru secara bersamaan. Kecepatannya di luar batas kemampuan manusia biasa. Kau harus ekstra hati-hati saat berhadapan dengannya" Helena memberi informasi

"Baiklah" jawabku singkat

"Dash, kau harus tinggalkan aku. Jika kau membawaku, jejak darahku akan membuatmu mudah terlacak. Tinggalkan aku sekarang" pintanya

"Tidak, tidak Helena. Aku baru saja membunuh kawan lamaku, Hassel, yang namanya baru kuingat beberapa saat yang lalu. Aku tak ingin lagi kehilangan seseorang dari masa laluku" ucapku

"Tidak, kau harus pergi sendiri. Kau harus!" bentaknya

"TIDAK!" aku membentak balik.

Tiba-tiba, BLAM!! Helena mengarahkan pistolnya ke kepalanya sendiri. Ia membunuh dirinya sendiri. Ia tak ingin membebaniku. Aku sadar bahwa dia benar, aku harus pergi sendiri. Aku tak boleh terus merenung di sini. Aku harus mengakhiri permainan gila ini. Aku sudah kehilangan dua orang dari masa laluku dalam waktu yang berdekatan. Aku tak boleh lemah, aku memang sudah lupa, apa status Helena terhadapku di masa lalu, tapi aku berjanji akan menyelesaikan pertarungan ini dan membunuh semua lawanku, aku berjanji.

(to be continued)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Yes. Any comments are acceptable. Except ads. No ads. NO FUCKIN ADS.