Senin, 28 Januari 2013

Dash (Part 2)

Agh! Aku terbangun di sebuah ruangan. Sepertinya sebuah gedung perkantoran atau apalah. Di hadapanku terdapat sebuah Tablet PC, yang dilapisi oleh kaca tahan peluru. Ketika aku sudah sadar sepenuhnya, muncul sebuah video (streaming mungkin?) yang menampilkan sesosok orang berpakaian gelap, dan menggunakan sebuah tudung yang membuat wajahnya tertutup.

"Selamat datang, Fighter!" sapanya

"Dimana aku?!" tanyaku, berharap ini sebuah video call, komunikasi dua arah

"Aku adalah Hestia, aku adalah dewi rumah dan kehangatan. Kalian berada di sebuah gedung di daerah yang tidak terpencil. Aku tak bisa memberi perinciannya, tetapi kalian bisa keluar hanya jika kalian telah mengalahkan satu sama lain. Aku bisa ditemukan di beberapa ruangan di area ini, dan di tempat itulah kalian akan mendapatkan Regenerator, Amunisi, dan beberapa senjata tambahan lainnya. Tidak ada peraturan tentang senjata di sini. Kalian boleh menggunakan bahan peledak, maupun senjata laser. Kalian diperbolehkan membunuh, membantai, menyiksa, dan membuat musuh pingsan sementara. Tapi, membuat musuh pingsan tidak termasuk dalam Point kalian. Jadi, usahakan kalian membunuh mereka. Semakin tepat sasaran, semakin banyak uang yang kalian dapat. Selamat bertarung, Fighters! Satu tips untuk kalian, survive..." pesan video itu berakhir.

"Tunggu, aku lupa ingatan! Aku tak tahu apa yang harus dilakukan!" bentakku ke layar Tablet PC tersebut

Terlambat, Tablet PC itu sudah menyelesaikan tugasnya. Pintu di belakangku terbuka. Sepertinya aku harus keluar, dan bertarung. Aku harus menang, aku ingin memoriku, dan aku ingin bebas. Aku kemudian berlari keluar ruangan tersebut dan mendapati diriku di koridor luas. Aku berlari ke arah kanan, dan bertemu musuh pertamaku. "Hassel" pikiranku berteriak.

"Hassel!" aku memanggil, entah darimana pikiranku mendapatkan nama itu.

Orang itu menoleh, "Haha! Dash! Kaukah itu? Lama tak jumpa teman! Kau kembali ke bisnis ini hah?" Ia memberi pertanyaan bertubi-tubi

"Apa aku mengenalmu?" tanyaku, sedikit linglung

"Tentu saja, bodoh! Kau baru saja memanggil namaku! Dan, jika kau ingat, kita pernah sekelas waktu Sekolah Menengah kan?" Dia meringis, membuatku bingung

Hassel, atau siapalah, memiliki raut wajah yang sulit dibaca. Sorot matanya tajam dan serius, bentuk wajahnya sedikit bulat, tapi rahangnya ramping, dan memiliki bentuk mulut yang selalu berhias senyum. Ya, mata dan mulutnya sungguh tak cocok. Sorot mata tajam dan bibir yang penuh senyum? Mungkin dia memang benar pembunuh berdarah dingin.

"Hei hei, kenapa diam saja kawan? Kita seharusnya saling membunuh kan?" tanyanya.

Firasatku benar, dia memang pembunuh. "Ya ya, tentu. Hmm, kau tahu, aku baru-baru ini lupa ingatan. Apa yang harusnya aku lakukan di permainan ini?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatiannya.

"Yah, kau punya senjata bukan? Senjatamu, pistol emas itu! Ya, keluarkanlah! Kau harus berusaha membunuhku, dan aku harus berusaha membunuhmu. Simple bukan? Haha" dia tertawa, tanpa merubah sorot matanya sama sekali.

"Baiklah. Tapi, kau temanku bukan? Aku tak bisa membunuhmu!" aku berteriak, mencoba menarik perhatiannya agar dia tak menarik senjatanya.

"Itulah pertemanan! Ini seperti sebuah cobaan, kau harus membunuh temanmu. Kalau aku, yaa, aku sudah melakukannya puluhan kali. Jadi, aku sudah terbiasa membunuh teman sendiri. Selain itu, kau juga punya uang banyak kan di akun bank-mu? Sebuah godaan besar bagiku untuk membunuhmu" terangnya

Sial, aku tak bisa berpaling darinya sebentar saja. Tangannya semakin dekat dengan senjatanya yang terletak di pinggangnya. Ini seperti, duel dua orang cowboy. Aku berusaha mencari senjataku di kantung celanaku. Lumayan sulit, semua karena aku lupa ingatan.

"Hei, kau tahu? Aku sudah lama merindukanmu, Hassel! Aku merindukanmu! Bagaimana kalau kita berjabat tangan terlebih dahulu sebelum kita saling bunuh?" aku tertawa grogi.

"Sepertinya, tidak" jawabnya.

Sorot matanya berubah menjadi lebih tajam. Senyumannya berubah menjadi sebuah garis datar. Dia seperti seseorang yang kerasukan, hanya saja bukan kerasukan roh gaib. Tangannya sangat cepat, meraih senjatanya dan menarik pelatuknya. Refleks, aku melompat ke samping, ke belakang sebuah laci besar. Bang! Bang! Suara tembakan mendesing di telingaku. Aku merasa ada sesuatu menjalar di telingaku. Sial, aku harus mencari jeda di antara tembakannya.

Lalu, sesuatu terjadi. Entah bagaimana, otakku tiba-tiba membuat waktu seakan-akan berjalan lambat. Tanganku menarik senjataku, pistol emasku, dari saku celanaku. Tangan kananku merasa mendapat beban yang berat, tapi mudah diangkat. Gravitasi serasa hilang. Aku melompat keluar dari persembunyianku, dan menatap mata Hassel. Aku menembakkan pistolku, semua terasa lambat. Aku tak tahu bagaimana, ini semua hanya refleks. Hassel sepertinya tercengang melihatku. Mungkin baginya semua ini terjadi sangat cepat. Tiba-tiba, terdengar suara letusan. Suara logam menembus daging. Aku melihat bercak darah tepat di depan mataku. Secara slow-motion. Mataku terbuka lebar, aku terkejut. Peluruku, meledak?! Aku bisa melihat kepala Hassel pecah, terbelah dua secara tidak simetris. Bola mata Hassel terpental ke arah yang berbeda. Senjata Hassel, sebuah pistol revolver besar, terjatuh dari tangannya. Kakinya tertekuk, lalu kemudian terjatuh. Aku sempat mendengar sebuah teriakan yang berkata "APA...?!" yang kemudian berhenti. Entah suara itu memang terdengar sangat lambat, atau Hassel masih sempat berteriak disaat kepalanya pecah, aku tak tahu. Setelah semua itu, pikiranku kembali berjalan normal. Semua terjadi sangat cepat. Aku terjatuh berlutut, tak tahu harus apa. Aku baru saja membunuh temanku, teman lamaku, yang namanya baru kuingat beberapa saat lalu.

(to be continued)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Yes. Any comments are acceptable. Except ads. No ads. NO FUCKIN ADS.