Senin, 28 Januari 2013

Dash (Part 1)

Aku terbangun di tengah sebuah ruangan, entah dimana, yang serba putih. Aku tidak ingat apapun, kecuali satu, namaku. Namaku Hyphendash, atau begitulah mereka memanggilku. Entah sejak kapan, tapi hanya nama itulah yang aku ingat. Aku berharap ini hanyalah serangan otak ringan, yang biasa terjadi ketika seseorang terbangun dari tidur, tapi ternyata harapanku tidak nyata. Aku memang lupa ingatan. Tanpa sadar, aku menoleh ke arah kanan, dan aku baru menyadari bahwa sejak tadi di sana terdapat sebuah kertas, tertempel di sebuah cermin. Aku berjalan ke arah cermin itu. Aku berharap di kertas itu ada sesuatu yang berguna. Ketika aku telah mencapai kertas itu, ternyata di kertas itu terdapat sebuah kode, huruf dan angka yang (sepertinya) tersusun secara acak. Rasa sakit menjalari kepalaku, aku merasa aku mengingat sesuatu, yang berhubungan dengan tangan. Langsung saja aku memegangi tanganku, dan menyobek lengan bajuku. Di lengan atasku, terdapat tulisan yang sama dengan kode yang tertera di atas kertas itu. Apa ini? Siapakah aku? Sesosok manusia hasil percobaan? Aku berusaha menyingkirkan prasangka burukku, tapi aku tak bisa. Sudah hampir 15 menit aku memandangi kertas itu dan lenganku, tiba-tiba dua orang berpakaian dan berkacamata hitam (yang sepertinya sangat serasi) mendobrak masuk ke ruangan tempatku berada.

"Dash, kau harus menemui Chief, sekarang" ujar Men-In-Black yang di sebelah kanan

"Chief? Siapa itu Chief? Aku bahkan tidak tahu aku berada dimana!" Jawabku

"Kau akan tahu, sebentar lagi. Turuti saja perintah Chief, dan kau akan mendapatkan Rights" Sang Men-In-Black satunya berkata sembari tersenyum

Aku digiring melewati sebuah lorong yang memiliki pintu, banyak sekali pintu, di sisi-sisinya. Mengingatkanku akan film pada masa kecilku dulu, Monsters Inc. Bagaimana jika salah satu pintu ini terbuka, dan keluar sesosok monster dan menerkam dua Men-In-Black ini? Tunggu, jika mereka benar-benar Men-In-Black, mereka pasti terbiasa dengan monster. Mereka pasti akan menembak atau... tunggu, kenapa aku berpikir macam-macam? Aku seharusnya memikirkan untuk hal yang akan terjadi. Hei, aku bisa mengingat film masa kecilku! Apa ini berarti ingatanku mulai pulih? Ya, aku hanya bisa berharap. Tiba-tiba, aku dan kedua Men-In-Black itu berhenti di depan sebuah pintu besar yang sebenarnya lebih mirip gerbang sebuah rumah. Mereka memasukkan beberapa password khusus dan kemudian pintu itu terbuka, dengan sebuah bunyi desis yang sangat mirip dengan special effect sulap murahan

Setelah pintu terbuka, tampaklah sebuah ruangan megah di depanku. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi di ujung satunya dari ruangan itu. Ruangan itu tergolong lengang bila dilihat dari perbandingan benda yang ada di ruangan dengan luas ruangan. Tapi tetap saja, ruangan itu terkesan megah dan mahal, yang sepertinya memang. Aku digiring lebih lanjut ke dalam ruangan tersebut. Jadi ini orang yang disebut Chief itu? Tampaknya seperti miliuner tipikal lainnya. Semakin dekat, aku dapat melihat raut wajahnya dengan lebih jelas. Tampak familiar, aku harus mengakui. Tampangnya penuh wibawa, kesombongan, dan sangat dingin. Dia jelas sekali mantan anggota militer atau semacamnya.

"Ehem" Chief berdeham, "Kalian bisa tinggalkan kami berdua di sini" lanjutnya

Sembari dua Men-In-Black itu pergi, Chief turun dari kursinya dan menghampiriku sambil berdecak. "Ck ck ck ck, Dash. Kau ingat aku?" tanyanya

"Kurasa, tidak" Jawabku

"Kurasa tidak, PAK" tegasnya

"Oh ya, kurasa tidak pak" Ulangku

"Sebenarnya, kau seharusnya mengenalku. Kau prajurit terbaikku! Kau memenangkan banyak pertarungan! Kau adalah petarung sempurna!" ujarnya dengan bangga. "Kau lupa ingatan setelah insiden itu, ya aku mengerti..." lanjutnya

"Insiden apa?!" potongku

"Kau seharusnya TIDAK pernah memotong perkataanku. Tetapi karena kau lupa ingatan, yah, aku bisa memaklumi. Kau sudah melihat kode di lenganmu bukan?" tanyanya

Sial, aku baru saja berusaha melupakannya. "I..iya, pak" jawabku

"Kode itu, adalah kode untuk semua akun yang kau punyai. Password Facebook-mu, password Twitter-mu, kata sandi akun bank-mu, semua akun yang kau punyai menggunakan kata sandi itu. Sayangnya, kau lupa ingatan. Kau pasti lupa e-mail Facebook-mu dan username Twitter-mu. Tapi, setidaknya aku bisa memberi tahu akun bank-mu" Chief menjelaskan.

Semua hal tampak membingungkan. Facebook? Twitter? Aku tahu aku pernah menggunakannya. Tapi, aku tampaknya memang benar-benar sudah tidak membutuhkannya. Akun bank? Memangnya apa pekerjaanku sehingga aku butuh uang? Petarung, katanya. Semua informasi yang seharusnya kuketahui ini membuat otakku serasa mau meledak.

"Kau pasti bingung. Sebenarnya, kau hanya perlu satu hal. Ini..." ujar Chief sambil menyodorkan sebuah box kecil

Aku membukanya, dan terkejut. "S..se..senjata? Aku adalah seorang... pembunuh?" tanyaku meminta penjelasan.

"Tentu saja, hahaha! Kau bukan hanya pembunuh, kau adalah petarung! Kau bertarung di sebuah tempat yang telah disediakan, melawan berbagai petarung dari perusahaan lain!" jelasnya

Apa?! Memangnya aku ini apa? Robot petarung? Apa aku ini hanyalah sebuah bahan taruhan? Tapi aku mengingat perkataan Men-In-Black kedua tadi, bila aku menuruti perkataan Chief, aku bisa mendapat Rights. Walaupun aku tak tahu apa itu, tapi kedengarannya menjanjikan.

"Jadi, apa tugasku?" tanyaku

"Kau hanya perlu menyelesaikan satu tugas lagi, semacam Final Round. Fighters dari perusahaan lain telah lama menunggumu. Sejak kau Out beberapa bulan yang lalu, pertarungan sempat dihentikan. Walaupun perusahaanku besar, aku hampir bangkrut hanya gara-gara penghentian Fight sementara! Kau harus melaksanakan tugas ini, sehingga aku mendapatkan uangku kembali!" perintahnya

"Lalu bila aku berhasil, apa yang akan aku dapat?" tanyaku, berharap dia akan menjelaskan apa itu Rights

"Kau akan mendapatkan Rights" jawabnya. Tepat sasaran! pikirku. "Rights adalah hak untukmu sehingga kau bisa melakukan apa saja. Kau bisa keluar masuk perusahaan ini sesukamu, kau bisa berhenti dari Fight kapanpun kau mau. Dan kau bisa membunuh siapa saja, dan uang hasil bunuhanmu itu bisa terbagi menjadi dua. Tiga-perempatnya masuk ke akunmu, dan seperempatnya masuk ke dompetku! Menarik bukan?" tanyanya sembari mengakhiri penjelasan

"Aku ikut" sontak aku menjawab. Satu tugas lagi, ini bisa saja menjadi mudah ataupun sulit. Tapi mungkin di arena aku bisa mendapatkan memoriku kembali.

"Dimana aku harus memulai?" tanyaku lagi

"Josh dan Rams akan mengantarmu. Kau tidak perlu tahu dimana letak arenamu" jawabnya. "Josh, Rams, antar Dash ke arena" dia berbicara melalui telepon

Lalu datanglah dua Men-In-Black yang tadi membawaku. Tampaknya mereka sangat bersemangat menggiringku.

"Hari pertama kedua hah?" tanya yang di sebelah kanan, yang bernama Josh.

"Sepertinya kita harus menonton yang satu ini Josh" Rams memberi usul

"Boleh juga, sekarang, tahan nafasmu!" perintah Josh kepadaku.

Lalu, Josh memasukkan kepalaku ke sebuah kantung yang beraroma seperti, entahlah, kloroform? Aku tak tahu itu apa, tapi ketika kepalaku telah masuk seluruhnya, pandanganku tiba-tiba menjadi buram, lalu kemudian gelap...

(to be continued)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Yes. Any comments are acceptable. Except ads. No ads. NO FUCKIN ADS.