Sabtu, 30 Mei 2015

WITNESS!!

HALOHALO WANKAWAN sudah lama sekali tidak tulis menulis. Baiklah sekarang gue mau review film Mad Max: Fury Road yang sebetulnya sudah gue tonton kira kira minggu lalu dan sampai sekarang masih berasa vibe-nya. Memang film ini sangat gila.

Impression pertama gue setelah nonton adalah:

"ImmortAndaru". Hah, so clever.
So basically, gue sangat terpukau.

Anyway, here's my review.



(Review berikut ini di-copas langsung dari timeline LINE gue, because I'm a lazy dimwit)

You know what's good about Mad Max: Fury Road, aside from the little-to-no CGI? The action sequence. Film ini dari awal sampe akhir isinya action dan hampir nggak ada dialog. Baru mulai film pun, langsung kejar kejaran balapan.

Dan di Fury Road ini, equality berjalan dengan sebagaimana mestinya. Bukan, bukan cuma ada karakter wanita yang bisa berantem karena tuntutan feminisme, tapi karakter wanita yang beneran kicks-ass just because she can. Just because THEY can. Dan yang gue maksud equality adalah, bukan cuma cowok yang adu jotos tapi cewek cewek ini juga adu jotos dan beberapa mati mengenaskan. Realistis, sih, kalo diliat dari universe filmnya

Lalu juga, meskipun judulnya Mad Max, Max Rockatansky disini sedikit sekali dialognya. Dan nggak berpusat sama dia juga ceritanya. Ceritanya lebih berpusat ke universe dan konfliknya.

Fury Road ini dari awal mulai film langsung action, like I said. Jadi kalo telat dikit masuk teater ya ga ngerti kenapa kenapanya. Dan sepanjang film, ya itu, isinya cuma mobil di padang pasir, ledakan, aksi, berantem, ledakan, aksi, aksi, ledakan. In a good way, of course.

Satu hal lagi yang membuat film ini bagus adalah, film ini sangat imajinatif. Film post-apocalyptic sebagaimana mestinya. Nggak rasional mobilnya. Truk diatasnya speaker speaker gede, dan ada panggung tempat Doof Warrior main gitar yang ada flamethrowernya. Ide dari mana coba?

Si Coma-Doof Warrior, stealing the show
Maksudnya imajinatif adalah; 'film ini kan sangat tidak mungkin, buatlah segila mungkin'. This is clearly better than the over-hyped Furious 7 in any way.

Kalo yang tidak biasa nonton film ginian, alias keseringan nonton film action generik, film ini akan sangat membingungkan. "Apa ini, nggak jelas.", "Apa ini, mana ceritanya?", dan pertanyaan lain akan sangat sering terlontar. Film action generik, pada umumnya, memiliki plot yang kira kira 60% tersurat langsung. Biasanya cerita, narasi, backstory, lalu adegan kalem dulu. Fury Road ini enggak. Di awal, Max cuma bilang "My name is Max. My world is fire and blood.", lalu BUM mulai film. 2 menit kemudian, kejar kejaran dan ledakan.

Ledakan disini bukan maksudnya ala Michael Bay. Bukan. Ledakan Michael Bay itu skalanya besar dan terlalu hiperbolik. Sedangkan George Miller ini, ledakannya realistis karena memang no CGI, jadi efeknya nggak berlebihan.

Kenapa sedikit CGI? Karena George Miller masih pengen menjaga style Fury Road ini biar rasanya masih sama kayak trilogi Mad Max 30 tahun lalu. Wait, what? YA, 30 TAHUN! Sekuel ketiga (film keempat) dari sebuah seri, yang film terakhirnya (Mad Max: Beyond Thunderdome) rilis tahun 1985.

In short, Mad Max: Fury Road is one of the best action movie in 2015. Bisa dibilang, bahkan THE BEST, secara subjektif sih. Film ini ringan. No complex plot, no boring exposition. Cuma ada latar tempat yang disajikan gitu aja tanpa cerita, karena George Miller mau penontonnya mengelaborasi sendiri apa yang terjadi tanpa membatasi imajinasi penikmat. Action-packed, little-to-no dialogue, sangat imajinatif dan nggak maksa buat jadi realistis, dan universe yang sangat terbuka buat interpretasi. Juga sangat sedikit CGI; ledakan betulan, suara gitar Doof Warrior betulan dan flamethrower betulan, mobilnya beneran dirakit dan beneran dikemudiin, karakterisasi yang jelas meski tanpa backstory, props yang detail, stunts yang keren, violence tanpa gore berlebihan-- well, pokoknya film ini bagus. Banget. Nggak salah dapet rating 98% di Rotten Tomatoes.

There it is, di-copas straight from timeline LINE.

Dan sebagai pelengkap, ini ada B-Roll dari film tersebut


Sangat keren, men.

Nambahin review copas-an di atas, yang membuat film ini menarik adalah sangat sedikit penjelasan mengenai berbagai macam hal. Cult menyembah setir mobil? Bullet Farm? GasTown? Buzzards? APA ITU? Entah, tidak ada penjelasan, tapi sepanjang film dipakai terus dan penonton tetep carry on. Why? Karena Fury Road ini menggunakan prinsip "Show, don't tell" yang berarti film ini menunjukkan macam macam hal yang memang tidak ada penjelasannya, tapi orang orang pasti mengerti.

Cult menyembah setir mobil? Count me in!
[Chants] V8! V8! V8!
Kayak pas si Max nanya si Nux, "You a black thumb?". APA ITU BLACK THUMB? ENTAHLAH. Tapi setelah itu kita liat si Nux betulin mesin, yang bikin orang berpikir "oh black thumb itu 'kang bengkel kali" atau semacam itu.

Ya begitulah review saya yang humble ini. Masih banyak yang belum ke-cover nampaknya, tapi ya itu memang karena saya nulis review ini bukan karena niat ngereview dari awal tapi karena baru inget belom nulis di blog. Lihat itu, reviewnya aja copas-an.

Mungkin kalo kepikiran hal yang review-worth (term macam apa itu) lagi, mungkin saya tidak akan nulis disini. Ya, TIDAK akan. Karena saya jarang buka blog dan saya terlalu malas. Jadi kalo mau update terbaru dari saya, bisa follow twitter saya di @andarudaru meskipun saya sudah jarang twitteran.

OH atau mungkin bisa add LINE saya-- kenapa jadi ngomong 'saya' sih? --bisa add LINE gue, cukup search ID gue; 'andarudaru' dan BAM gue bakal nyampah di timeline kalian! Seru bukan?

Jadi sekian dari gue, semoga bermanfaat.

"It is by my hand, you will rise from the ashes of this world. You shall ride eternal, shiny and chrome. You are awaited at the gates of Valhalla."

SEE YOU, WAR BOYS!

...ah, MEDIOCRE!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Yes. Any comments are acceptable. Except ads. No ads. NO FUCKIN ADS.